You are currently viewing MIRAS VOL.3: PATRIARKI

MIRAS VOL.3: PATRIARKI

Zaman sekarang, isu kesetaraan gender sangatlah marak didiskusikan. Di Indonesia, ketidaksetaraan gender marak terjadi di lingkungan sosial. Salah satu masalah gender yang sering dihadapi adalah patriarki. Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang utama dalam peran-peran sosial seperti politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Patriarki bekerja pada bidang:

1. Kekuatan politik

Bekerja dari struktur paling kecil yakni keluarga, komunitas, dan negara.

2. Kekuatan Ekonomi

Hak kepemilikan. Siapa yang paling berhak memiliki dan mengelola aset?

3. Kekuatan Simbolik

Agama, budaya, kepercayaan, dan moralitas.

 

Patriarki sendiri memiliki beberapa framework sebagai berikut:

1. Dimensi Internal

Kepercayaan dan sikap yang membenarkan kekuasaan laki-laki atas perempuan.

2. Dimensi Institusi

Kebijakan, praktek, dan budaya institusi yang menjaga kekuasaan laki-laki atas perempuan.

3. Dimensi Interpersonal

Perilaku seseorang dalam relasi dengan orang lain untuk menjadikan kekuasaan laki-laki diatas perempuan.

 

Sistem patriarki ini dapat menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan sosial sekitar seperti dominasi gender, rape culture, dan toksik maskulinitas. Untuk mencegah dan mengatasi dampak negative dari sistem ini, maka munculah suatu gerakan bernama feminisme yang mengkritik sistem patriarki. Feminisme telah lahir sejak tahun 1848. Berikut adalah fase Gerakan feminisme:

1. Gelombang 1 (1848-1940)

Disebut sebagai suffrage period dengan hak memilih sebagai bentuk partisipasi dalam demokrasi.

2. Gelombang 2 (1960-1988)

Merupakan era perjuangan kesetaraan akses untuk menembus beberapa “wilayah” yang dibatasi bagi perempuan.

3. Gelombang 3 (1990-sekarang)

Memeluk individualisme, keanekaragaman, dan berusaha untuk mendefinisikan berbagai konsep dalam feminisme.

Dari Gerakan ini, output positif sangatlah diharapkan. Semoga isu patriarki ini bisa dicegah dan diatasi sehingga semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di lingkungan sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain tanpa memandang gender.

 

Sumber: 

  1. Ressa Ria Lestari, S.Ant – Chief Coordinator Samahita Bandung
  2. Jolanda Pretty Punyanan – Wakil Ketua Divisi Keprofesian HIMATEK-ITB 2020/2021

Penulis: Allysa Qinanti

Tinggalkan Balasan