Apa masalah kesehatan yang sedang menjangkit Indonesia?

Pandemi ini telah memberikan dampak di semua sektor sejak masuknya ke negara terkait. Di Indonesia sendiri, pandemi secara resmi dikonfirmasi pada Senin, 2 Maret, dengan adanya dua orang positif terjangkit virus Corona, yaitu perempuan berusia 31 dan 64 tahun. Pemerintah kemudian melakukan penanganan tanggap darurat terhadap pasien dengan melakukan perawatan instensif. Pemerintah menyediakan 100 rumah sakit untuk rujukan pasien suspect Corona. Selain itu, seluruh pembiayaan ditanggung oleh negara sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/104/2020 tentang Penetapan Infeksi Corona Virus sebagai Penyakit Dapat Menimbulkan Wabah dan Penanggulangannya. Pemerintah juga mengerahkan dokter dan tenaga medis lain dengan insentif tertentu dengan harapan penanggulanan wabah ini lebih baik.

bagaimana perkembangan masalah tersebut?

Seluruh usaha pemerintah seakan belum membuahkan hasil nyata jika dilihat dari jumlah terkonfirmasi dari hari-hari dengan total 373 ribu jiwa per tanggal 21 Oktober dan total penambah dalam satu hari sekitar 4000 jiwa. Namun, di balik tingginya jumlah terkonfirmasi positif tersebut, jumlah pasien yang sembuh juga cukup tinggi, yaitu 298 ribu jiwa. Kesembuhan pasien tidaklah lepas dari usaha tenaga medis. Para garda terdepan penanganan Covid-19 ini harus berjaga selama 24 jam dengan APD lengkap yang “cukup menyesakkan”. Salah satu cerita berasal dari seorang dokter yang menanangi suatu rumah sakit di Jakarta seorang diri. Hal ini karena dokter yang lain sedang menjadi OPD. Dia, dr. Alexander Randy, harus berjaga di rumah sakit rujukan tersebut dan harus berpisah dengan keluarga sejak awal pandemi. Tidak hanya itu, dia juga harus berjuang untuk mendapatkan APD yang sudah mulai langka dan mahal. Di balik beban berat yang dibawa, dia merasa beruntung karena mendapat kesempatan untuk berkontribusi bagi masyarakat. Tidak hanya dr. Rendy, masih banyak dokter yang memiliki perjuangan dalam masa pandemi ini dengan suka duka tersendiri.

Bagaimana sejarah hari dokter nasional?

Untuk memperingati jasa dan perjuangan dokter di Indonesia, tepat hari ini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Dokter Nasional. Hari ini diperingati setelah 70 tahun yang lalu Soeharto menghadap notaris untuk memperoleh dasar hukum atas berdirinya perkumpulan dokter dengan nama Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sebenarnya sejarah IDI sudah ada jauh sebelum diresmikan. Pada tahun 1911, perkumpulan dokter nusantara lahir dan bernama Vereniging van Indische Artsen kemudian pada tahun 1926 berganti nama menjadi Vereniging van Indonesische Genesjkundigen (VIG). Perkembangan ini terus berlanjut dengan diadakannya kongres di Solo dengan Prof. Bahder Djohan sebagai pembina dan pemikir istilah baru dalam dunia kedokteran. Pada pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan diganti dengan Jawa IZI Hooko-Kai. Tahap terakhir adalah pada 30 Juli 1950 diadakannya Muktamar Dokter Warganegara Indonesia (PMDWNI) atas usulan Dr. Seni Sastromidjojo, Persatuan Tabib Indonesia (PB Perthabin), dan Perkumpulan Dokter Indonesia (DP-PDI). Puncak dari perkumpulan ini adalah pada 22-25 September 1950 digelar Muktamar I Ikatan Dokter Indonesia (MIDI) yang kemudian diresmikan pada bulan Oktober.

sejarah dokter di indonesia

Pada abad 19, epidemi menular merebak di seluruh wilayah Hindia Belanda. Pemerintah saat itu kesulitan untuk menangani pribumi yang terjangkit penyakit tersebut karena dokter dan rumah sakit yang ada hanya diperuntukkan bagi orang Eropa saja. Tidak terbendungnya wabah ini membuat semua kalangan menjadi terinfeksi. Kepala Dinas Kesehatan Umum Hindia Belanda, Willie Bosch, mengusulkan pribumi diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan dokter sehingga dapat disalurkan ke berbagai daerah untuk menangani pandemi ini. Dengan serangkaian perdebatan, usulan Bosch di terima dan didirikanlah School ter Opleiding van Inlandshce Geneeskundigen atau Sekolah Dokter Jawa. Keberadaan dokter-dokter ini terbukti menekan penyebaran wabah secara masif. Keberhasilan ini membuat adanya reformasi lama masa pendidikan dari tiga tahun menjadi tujuh tahun dan jumlah siswa dari 50 menjadi 100 siswa. Adanya kebijakan politik etis pada 1902 membuat adanya revisi pendidikan. Nama sekolah berganti menjadi School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputra. Adanya STOVIA menjadi cikal bakal berdirinya empat sekolah lain, yaitu Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 1920, Recht Hoogeschool pada 1924, Facultiet der Letteren en Wijsbegeerte pada 1940, dan Facultiet van Landbouwweteschap pada 1941.

Akhir kata,

              Sumbangsihku Yang Mulia

              Demi Kesehatan Jiwa Raga

              Bakti…… Kami…….

              Untuk Nusa Bangsa

 

Sepenggal hymne IDI mengisyaratkan akan penjuangan dan bakti dokter Indonesia dalam menjaga kesejahteraan hidup melalui kesehatan. Di masa pandemi ini, kita dapat ikut berkontribusi dan membantu para dokter dengan menjaga diri dengan baik dan mematuhi protokol kesehatan. Semoga jaya selalu kesehatan Indonesia!

penulis

Bryan Prama Ardiansyah (13018051)

sumber

https://tirto.id/peringatan-hari-dokter-nasional-24-oktober-sejarah-berdirinya-idi-ekhn

health.detik.com/berita-detikhealth/d-4271415/penting-begini-sejarahnya-24-oktober-jadi-hari-dokter-nasional

historia.id/kultur/articles/yang-pertama-dari-kedokteran-indonesia-6jM2a/page/4

republika.co.id/berita/q7qc5m328/cerita-satu-dokter-yang-berjuang-melawan-covid-19

news.detik.com/berita/d-4991485/kapan-sebenarnya-corona-pertama-kali-masuk-ri

nasional.kompas.com/read/2020/03/03/07440941/langkah-kemenkes-setelah-dua-wni-positif-terjangkit-virus-corona?page=all

Leave a Comment