You are currently viewing Korupsi Si Penyakit Perdaban Manusia

Korupsi Si Penyakit Perdaban Manusia

Korupsi adalah kata yang tidak asing di telinga kita. Namun apakah kita mengetahui apa itu korupsi sebenarnya?

Korupsi berasal dari Bahasa latin Corruptio yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik, menyogok, orang yang dirusak, dipikat, atau disuap. Secra sederhana Korupsi adalah Tindakan penyalahgunaan kekuasaan demi mendapat keuntungan pribadi ataupun golongan. Bentuk atau jenis korupsi pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 7 yaitu: Kerugian keuangan negara, Suap-menyuap, Penggelapan dalam jabatan, Pemerasan, Perbuatan curang, Benturan kepentingan dalam pengadaan dan Gratifikasi.

Korupsi bukanlah penyakit baru dalam peradaban umat mausia. Sejarah mencatat penyakit ini sudah ada sejak awal kehidupan manusia, yaitu ketika organisasi kemasyarakatan yang rumit mulai muncul, seperti pada zaman Mesir Kuno, Babilonia, dan Romawi kuno. Di Indonesia sendiri penyakit ini tercatat sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan beberapa referensi menyatakan korupsi sudah ada sejak jaman kerajaan nusantara melalui venalty of power, dimana kedudukan atau jabatan diperjualbelikan secara bebas kepada siapa saja yang mampu membayar.

Apakah korupsi itu berbahaya bagi peradaban?

Tentusaja. Awalnya praktek korupsi akan menciptakan kondisi ekonomi dengan biaya tinggi yang akan berimbas kepada mahalnya harga jasa dan pelayanan publik. Hal ini akan menyebabkan pengentasan kemiskinan berjalan lambat karena masyarakat sulit mendapatkan pekerjaan yang disebabkan oleh kendala biaya untuk mendapatkan pendidikan dan bagi pembuka lapangan pekerjaan akan terkendala oleh kemampuan, masalah teknis serta pendanaan.

Efek lanjutnya adalah akses bagi masyarakat miskin akan semakn terbatas sehingga menciptakan lingkaran setan kemiskinan. Dengan tingginya kemiskinan dan ketidakpercayaan masyarakat kepada penegakan hukum berimbas kepada meningkatnya angka kriminalitas. Efek jangka Panjang dari hal ini adalah solidaritas sosial akan semakin langka yang akan menyebabkan demoralisasi. Masyarakat akan semakin individualis, mementingkan dirinya sendiri dan keluarganya saja. Jika sudah begini maka masyarakat tidak lagi memiliki kepercayaan kepada pemerintah, sistem, hukum, bahkan kepada sesamanya sehingga akan berujung kepada runtuhnya suatu negara atau peradaban.

Bagaimana upaya yang dilakukan untuk memberantas penyakit ini?

Dari zaman dahulu peradaban manusia sudah berkali kali berusaha memberantas penyakit ini seperti yang dilakukan Hammurabi Raja Babilonia pada tahun 1200 SM. Saat itu, Hammurabi mengancam para pejabat di bawahnya dengan hukuman mati jika tertangkap korupsi. Atau yang dilakukan oleh Romawi Kuno yaitu pejabat Romawi Kuno yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi akan diasingkan sekaligus dibunuh.

Di Indonesia upaya penanganan korupsi secara yuridis baru dimulai pada tahun 1957, dengan keluarnya Peraturan Penguasa Militer Nomor PRT/PM/06/1957. Peraturan yang dikenal dengan Peraturan tentang Pemberantasan Korupsi ini dibuat oleh penguasa militer waktu itu. Selanjutnya pada masa Orde Baru dikeluarkan berbagai peraturan mengenai pemberantasan korupsi sayangnya tidak banyak peraturan yang dibuat itu berlaku efektif dan membuat korupsi sedikit berkurang dari bumi Indonesia. Setelah rezim berganti terbentuklah Lembaga pemberantasan korupsi yaitu KPK yang sampai sekarang tetap berjuang menyelamatkan negeri.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas korupsi namun sejarah negeri ini mencatat penyakit ini malah semakin ganas. Diera Orde Baru korupsi dilakukan terkonsolidasi di level pemerintah pusat yang meliputi aspek politik dan pembangunan, pada era Reformasi korupsi telah terdesentralisasi ke daerah-daerah yang meliputi hampir seluruh aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah. Bahkan, korupsi pada era sekarang sudah sampai kepada stuktur pemerintahan terbawah, yaitu desa. Sungguh sangat ironis melihat negeri yang kaya tergrogoti oleh tikus-tikus berdasi.

Saat ini dunia dilanda ekonomi krisis akibat pandemi Covid-19 termasuk Indonesia. Sangat disayangkan pada masa masa genting seperti ini masih saja terdapat oknum pejabat yang melakukan prilaku penyakit peradaban ini, bahkan sampai bantuan yang dimaksudkan untuk meringankan beban rakyatpun dimakan.

Ada apa dengan negeri ini? Apakah kita sudah mencapai tahap demoralisasi yang merupakan tanda runtuhnya peradaban? Atau saat ini Indonesia sedang dalam krisis kejujuran, krisis amanah, kekurangan orang-orang yang jujur, sehingga pemimpin yang adil dan berpihak pada rakyat sulit ditemukan? Jawabannya ada dihati kita masing-masing.

Dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia yang bertepatan dengan diadakannya pilkada serentak di tanah air mari kita menanamkan didalam diri untuk menjadi pribadi yang amanah dan semoga pejabat negeri yang terpilih pada hari ini dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

 

“Membiarkan terjadinya korupsi besar-besaran dengan menyibukkan diri dengan ritus-ritus hanya akan berarti membiarkan berlangsungnya proses pemiskinan bangsa yang makin melaju.” -Abdurrahman Wahid

penulis

Zuma Rizka Akbar Ibrahim (13018103)

sumber

Tinggalkan Balasan