Kereta Api Indonesia

Dedikasi untuk bangsa

Integritas dan inovasi

Menjadikan kami terdepan

Sepenggal lirik dari mars perusahaan pelat merah yang bermarkas di Perintis Kemerdekaan 1 Bandung ini menunjukkan motivasi insan punggawa ular besi dalam berkontribusi pada kemajuan bangsa. Setelah pencangkulan tanah pertama oleh Gubernur Jenderal LAJW van de Beele pada 17 Juni 1864 dan operasional perdana tiga tahun kemudian, saat ini tercatat sudah lebih dari 4.000 kilometer kalung besi aktif yang terangkai di seantero Jawa dan Sumatra, seakan-akan telah “menggenapi” ramalan Jayabaya.

Perkembangan kereta api sejak diambil alih para pemuda dan buruh pada 28 September 75 tahun silam memang tidak selamanya mulus. Panjang rel di atas saat ini telah jauh berkurang dibandingkan dengan era kolonial Belanda yang merambah hingga Madura dan Sulawesi, berikut banyak lintas cabang untuk mengangkut komoditas dan penumpang di pedalaman pulau. Belum lagi dengan trem listrik yang sempat dimiliki Batavia dan Surabaya, menjadikan Hindia Belanda sebagai wilayah jajahan setara dengan kota maju di Eropa kala itu. Panjang jaringan rel yang berkurang ini juga diiringi dengan pelayanan yang ala kadarnya: naik kereta dengan “salam tempel”, jadwal waktu tiba yang tak pernah ditepati, fasilitas yang tidak terawat, dan angka kecelakaan (PLH) yang tinggi.  Kondisi ini berjalan puluhan tahun sejak era DKARI (1945-1950), DKA (1950-1963), PNKA (1963-1971), PJKA (1971-1991), Perumka (1991-1998), hingga menjadi Perseroan. Sampai akhirnya seorang bankir bernama Ignasius Jonan diangkat menjadi orang nomor satu pada tahun 2009, kereta api seakan-akan memiliki masa depan yang cerah. Pria yang kemudian menjabat sebagai Menteri Perhubungan dan ESDM ini merombak KAI secara radikal, mulai dari pelarangan pedagang asongan dalam seluruh area kereta api, larangan merokok di dalam kereta, pemasangan penyejuk udara pada hampir semua kereta, dan pembatasan ruang gerak calo dengan sistem boarding.

Itu baru perubahan yang kelihatan. Perubahan kultur pun dilakukan dengan remunerasi pegawai yang akan memacu kinerja, sistem reward and punishment, dan pengorganisasian yang lebih lincah. Segala perubahan ini tentu berdampak positif kinerja keuangan PT KAI. Pada tahun 2008, perusahaan ini mencatatkan rugi hingga Rp83,5 miliar. Hanya setahun, PT KAI sudah berhasil membukukan laba sebesar Rp154,8 miliar. Bahkan pada tahun lalu, laba bersih sebesar Rp1,97 triliun berhasil dikantongi.

Reformasi ala Jonan pun terus bergulir di tangan penggantinya. Aplikasi KAI Access semakin dikembangkan hingga merambah kepada kereta lokal jarak dekat. Penumpang juga tidak perlu lagi mencetak boarding pass dan cukup menunjukkan boarding pass elektronik pada aplikasi tersebut. Selain kemudahan akses pembelian tiket, KAI juga menghadirkan co-working space di sembilan stasiun kereta api besar. Gerakan sosial pun juga dilakukan dengan merombak beberapa kereta lama menjadi klinik berjalan yang disebut Rail Clinic. Kereta ini memiliki berbagai fasilitas kesehatan yang dapat diakses gratis oleh penduduk kurang mampu yang tinggal di sekitar jalur dan stasiun kereta api.

Kereta api sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tulang punggung transportasi nasional. Jika dibayangkan, tentu akan sangat menakjubkan saat seluruh wilayah Indonesia memiliki jaringan kereta api. Distribusi logistik dan mobilisasi penduduk akan lebih mudah dengan kapasitas besar yang dimilikinya.  Belum lagi dengan spirit integrasi antarmoda yang semakin memperkuat konektivitas negeri, seperti KA Bandara Kualanamu, KA Bandara Soekarno-Hatta, LRT Palembang, KA Bandara Internasional Minangkabau, KA Bandara Internasional Kulonprogo, dan KA Bandara Adisumarmo, serta LRT Jabodebek yang saat ini tengah digarap.

Kereta api merupakan solusi bagi ekosistem transportasi yang dapat mendorong kemajuan konektivitas negeri dan perekonomian bangsa. Tentu asa untuk mengkoneksikan negeri dengan jaringan yang lebih luas lagi membutuhkan sinergi dan kerja cerdas dari seluruh pihak, termasuk dukungan dari masyarakat Indonesia. Seluruh insan kereta api juga harus terus meningkatkan kepedulian kepada tugas dengan berorientasi pada peningkatan pelayanan demi kepuasan pelanggan. Sejarah mencatat bahwa KAI bisa berubah menjadi lebih baik karena kontribusi semua unsur, mulai dari direksi hingga akar rumput. Perubahan ini terjadi bukan karena perencanaan yang hebat, melainkan karena kontribusi dari semua elemen: satu perbuatan baik setiap hari, satu perbaikan setiap hari.

Selamat ulang tahun, Kereta Api Indonesia.

PENULIS:

Ignatius Dozy Mahatmanto Budi (13018086)

Leave a Comment