Dimulainya trend work from home (WFH)  sejak berlangsungnya pandemi membawa suka duka tersendiri bagi tiap individu, termasuk bagi lingkungan. Dikutip dari tirto.id, pada bulan April 2020, bulan pertama penerapan WFH, tercatat bahwa tonase sampah di DKI Jakarta menurun secara signifikan, dari sekitar 9 ribu ton per hari (pada awal Maret) menjadi 8 ribu ton per hari. Selain itu, Kota Bogor melaporkan penurunan timbulan sampah sebesar 100 ton dan Kota Denpasar sebanyak 300 ton per hari. 

 

Penurunan sampah ini terjadi dikarenakan pengurangan sampah dari sektor komersial seperti pusat perbelanjaan dan pariwisata. Namun, di saat yang bersamaan, terlihat peningkatan pada jumlah limbah rumah tangga seperti sisa makanan dan sampah kemasan. Hal ini disebabkan oleh perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih mengandalkan sistem online shopping untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari pasca penerapan kebijakan WFH dan pembatasan sosial. 

 

Meskipun demikian, peningkatan produksi limbah tidak hanya terjadi di sektor rumah tangga, melainkan juga pada sektor medis. Seiring dengan bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia, akumulasi limbah medis seperti masker sekali pakai, sarung tangan medis, dan APD (alat pelindung diri) pun meningkat pesat. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, Siti Nurbaya Bakar mengatakan bahwa Indonesia telah mengumpulkan lebih dari 1.100 ton limbah medis dari bulan Maret hingga Juni 2020. 

 

Tak hanya masker bekas, penggunaan desinfektan juga meningkat di masa pandemi ini. Sistem pembuangan dan pengelolaan yang tidak tepat pada desinfektan dapat berdampak buruk bagi lingkungan, salah satunya mengurangi kesuburan tanah. Bahan-bahan kimia yang terkandung pada desinfektan, selain dapat membunuh virus dan bakteri, juga membunuh mikroorganisme yang berperan dalam siklus nutrien untuk kesuburan tanah. Ditambah lagi, pada musim penghujan, larutan desinfektan dapat tersapu oleh air hujan sehingga menambah potensi pencemaran lingkungan, khususnya pada tanah.

 

Dalam penuntasan masalah yang ditimbulkan oleh limbah akibat pandemi ini, masyarakat dan pemerintah perlu bahu-membahu. Peran dari kedua pihak sangat krusial dalam menghadapi masalah ini. Dari segi pemerintah, Dosen dan Peneliti Lingkungan FMIPA UGM, Suherman, Ph.D, berpendapat bahwa pembatasan aktivitas masyarakat pada masa pandemi ini hanya akan menggeser porsi sumber sampah, menurunkan sampah kota tetapi sampah rumah tangga melonjak drastis di sisi lain. Oleh karena itu, menurutnya yang perlu dilakukan pemerintah adalah perbaikan pada sistem pengelolaan sampah.

 

Pengelolaan sampah yang buruk dan minimnya kesadaran akan pengelolaan sampah merupakan suatu permasalahan krusial yang kerap menghantui Indonesia. Sebab, pengelolaan sampah yang tidak sesuai ketentuan dapat memperburuk berbagai permasalahan di kalangan masyarakat seperti pencemaran lingkungan. Implikasi dari pencemaran lingkungan dapat menimbulkan rantai persoalan lainnya seperti krisis biodiversitas oleh punahnya spesies flora dan fauna, kesehatan menurun akibat konsumsi air dan makanan tercemar, serta menciptakan sarang penyakit seperti DBD. 

 

Pemerintah telah mengambil langkah dalam menghadapi masalah limbah medis akibat pandemi ini. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 (PSLB3), yaitu Direktur Penilaian Kinerja KLHK dalam menghadapi masalah penyediaan fasilitas untuk pemusnahan limbah, khususnya di wilayah terpencil, telah memaparkan solusi berupa pembangunan 32 fasilitas pemusnah limbah medis di tahun 2020 – 2024 yang akan dikelola oleh pemda. 

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah memberikan pedoman pada rumah sakit, khususnya yang melakukan penanganan terhadap pasien virus COVID-19 mengenai pengelolaan limbah di rumah sakit. Kemenkes menggolongkan pengelolaan tersebut berdasarkan jenis limbahnya, yaitu air limbah, limbah padat domestik, dan limbah B3 medis padat. Pedoman tersebut menjelaskan bahwa air limbah (segala bentuk air buangan pasien dan cairan yang berasal dari kegiatan isolasi pasien) akan dikelola menggunakan unit IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah). Limbah padat domestik merupakan limbah yang berasal dari kegiatan kerumahtanggan (masker, tissue, kain, dsb.) yang kemudian akan disimpan pada penyimpanan khusus (maksimal 1×24 jam) sebelum diserahkan pada instansi terkait untuk pengelolaan. Untuk limbah B3 medis padat, pengelolaan akan dilakukan dengan desinfeksi dan selanjutnya melalui tahap penguburan dengan konstruksi kuburan sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah (Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 56 Tahun 2015).


COVID-19 telah sangat merugikan masyarakat, khususnya dalam hal kesehatan. Tidak hanya menjangkiti secara langsung melalui kontak dengan pengidap, tetapi juga melalui limbah yang didalamnya terkandung virus Corona. Sebagai warga negara yang baik, sudah sepatutnya kita  menghormati dan mematuhi kebijakan yang telah dibuat pemerintah. Selain menjalankan  protokol kesehatan seperti social distancing dan memakai masker, kita juga harus memperhatikan arahan pemerintah tentang pengelolaan limbah agar limbah tersebut tidak menjadi media penularan penyakit lainnya. Selain dari pihak masyarakat, pemerintah juga harus memperhatikan agar kebijakan yang dibuat serta penerapannya benar-benar efektif dalam menangani masalah COVID-19. Melalui kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, dapat diharapkan bahwa rantai penyebaran virus Corona dapat diputuskan dan keadaan bangsa kita dapat pulih seutuhnya.

sumber

Setiawan, Riyan (2020). Mengulik Perkara Sampah di Jakarta Selama WFH dan Pandemi. https://tirto.id/mengulik-perkara-sampah-di-jakarta-selama-wfh-dan-pandemi-eL7c

Diakses pada 07 Oktober 2020

 

De Suriyani, Luh (2020). Produksi Sampah dari Rumah Meningkat di Masa Pandemi Corona, Kok Bisa?.

https://www.mongabay.co.id/2020/04/28/produksi-sampah-dari-rumah-meningkat-di-masa-pandemi-corona-kok-bisa/

Diakses pada 07 Oktober 2020.

 

Kartika Dewi, Retia (2020). Mengapa Pandemi Corona Picu Lonjakan Limbah Plastik di Asia Tenggara?. https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/10/070000165/mengapa-pandemi-corona-picu-lonjakan-limbah-plastik-di-asia-tenggara?page=all

Diakses pada 07 Oktober 2020.

 

Ekuatorial (2020). Masalah Limbah Di Tengah Wabah. 

www.ekuatorial.com/id/2020/07/masalah-limbah-di-tengah-wabah/

Diakses pada 07 Oktober 2020 melalui 

 

Yulianto, Agus (2020). KLHK: Limbah Medis Pandemi Covid-19 Naik 30 Persen. https://republika.co.id/berita/qajb0f396/klhk-limbah-medis-pandemi-covid19-naik-30-persen.

Diakses pada 07 Oktober 2020.

 

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pengelolaan Air Limbah Pengelolaan Limbah Padat Domestik Pengelolaan Limbah B3 Medis Padat

https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Pedoman-Pengelolaan-Limbah-Fasyankes-Covid-19_1571.pdf

Diakses pada 07 Oktober 2020.

penulis

Annajmi N .E. R (13019032)
Helena A. (13019201)

Leave a Comment