Pohon.

Mungkin ini terdengar sepele, tapi tanpa adanya kehadiran pohon, kehidupan kita tidak dapat berlangsung. Sejak bangun tidur, kita mendapatkan akses gratis terhadap udara segar. Setelah itu, mengenakan pakaian bersih untuk melangsungkan hari kita. Kemudian, duduk di depan meja belajar yang nyaman; dan di beberapa situasi tertentu, menggunakan kertas untuk menuangkan ilmu kita. Tak terasa, beberapa sesi pelajaran telah berlalu, dan tibalah saatnya makan siang; dan mungkin saja ada sayur yang dihidangkan di depan kita. Ya, semua akses ini tentu tidak akan pernah ada tanpa adanya kehadiran pohon.

Udara segar yang kita hirup adalah salah suatu produk akibat reaksi terang pada tumbuhan. Pakaian yang kita pakai berasal dari serat. Serat yang berasal dari 3 buah sumber: hewan, mineral, dan pohon—hence, trees. Meja dan kursi, walaupun saat ini banyak dibuat menggunakan material lain, banyak sekali yang menggunakan kayu yang juga diperoleh dari pohon. Seperti pakaian, kertas berasal dari serat—lebih tepatnya kompresi serat—yang berasal dari pulp (hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat). Akhirnya, makanan yang kita konsumsi, sayur ataupun buah yang dihasilkan juga dari pohon. Dengan uraian tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa pohon menjadi sesuatu yang vital bagi kehidupan makhluk hidup di Bumi.

Peran pohon yang signifikan tentu bukanlah sesuatu yang baru disadari saat ini; bahkan, hal ini telah disadari ratusan tahun yang lalu. Salah satu tokoh yang secara terbuka mendeklarasikan peran akan pohon ini adalah J. Sterling Morton. Morton, seorang jurnalis asal Nebraska—memiliki ketertarikan akan agrikultur—sering menulis artikel dan editorial yang berkaitan dengan alam dan kegiatan di lingkungan. Morton menyadari akan peran pohon dan semak belukar di Nebraska dalam menghadapi kondisi iklim setempat. Melalui posisinya sebagai penyunting dari percetakan, Morton mendorong organisasi dan kelompok-kelompok dalam mempromosikan penanaman pohon.

Dedikasi Morton di pekerjaannya serta prinsip akan lingkungan yang kuat mengantarkannya ke posisi sekretaris di Nebraska. Dengan kekuatan politiknya, ia menggemakan semangat menanamkan pohon di Nebraska. Pada tanggal 4 Januari 1872, Morton mengajukan hari penanaman pohon yang disebut sebagai “Arbor Day”.  Inisiasi ini disetujui pada tanggal 10 April 1872 oleh pemerintah setempat, dan pada hari tersebut, masyarakat Nebraska menanam lebih dari 1 juta pohon. Dari tahap tersebut, kegiatan ini menjadi suatu kegiatan tahunan yang dilaksanakan masyarakat di Nebraska. Pada akhirnya, sejak tahun 1885, tanggal 22 April diputuskan menjadi “Arbor Day”.

Untuk mengenang jasa dari Morton terhadap peningkatan kepedulian akan lingkungan, tanggal 21 November ditetapkan sebagai Hari Pohon Sedunia. Hari ini juga menjadi momentum pengingat akan pentingnya peranan dan fungsi pohon bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup.

Semua aktivitas kita akan memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Sebagai makhluk yang memiliki kesadaran dan akal budi, tindakan dari manusia; tepatnya kita, akan menjadi penentu akan keberlangsungan hidup di planet kita. Kemudahan mungkin ada, namun tidak akan berguna tanpa adanya utilisasi penuh. Apakah pohon akan dikorbankan begitu saja, walaupun pohon adalah kunci dari keberlangsungan hidup?

Selamat Hari Pohon Sedunia!

penulis

Desylionie Onggani Winata (13018099)

Leave a Comment