DISKUCHE

Biji Kelapa Sawit (Sumber : https://visiglobal.co.id)

 

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas alam yang bernilai ekonomis tinggi. Minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), yang dihasilkan dari pengolahan kelapa sawit, memiliki nilai jual yang menggiurkan, dan menjadi penyumbang terbesar bagi devisa negara Indonesia—sebesar 80% dibarengi komoditas-komoditas lain. Per tahun 2020, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat bahwa luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan telah mencapai 14.996.010 hektar dengan total keseluruhannya merupakan gabungan dari tiga segmentasi kepemilikan lahan, yaitu smallholders (perkebunan rakyat), government (perkebunan besar negara), dan private (perkebunan besar swasta). Estimasi produksi minyak kelapa sawit dari seluruh perkebunan itu berada pada angka 49.117.260 ton. 

Bagaimana dampak pembukaan lahan sawit terhadap lingkungan?

1.     Pergeseran fungsi hutan

Berdasarkan analisis spasial yang dilakukan oleh lembaga Forest Watch Indonesia (FWI), Indonesia telah mengalami deforestasi hingga mencapai 2,81 juta hektar atau sekitar 49 persen akibat adanya izin pemanfaatan dan penggunaan lahan yang diberikan oleh pemerintah pada periode 2013-2017, di mana perkebunan kelapa sawit menjadi penyumbang deforestasi terbesar ketiga di angka 586.531 hektar.

Fenomena deforestasi yang timbul dari perkebunan kelapa sawit juga melenceng dari ketentuan UU Penataan Ruang (menggantikan Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992). Dalam UU ini, adanya prinsip penataan ruang bertujuan untuk menciptakan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Deforestasi justru menjadi ajang intervensi manusia yang merusak serta menghancurkan habitat alamiah yang seharusnya dilestarikan bersama-sama, dan pada akhirnya berujung pada beberapa bencana alam.

2.     Emisi GRK dan kebakaran hutan

Untuk setiap satu hektar lahan hutan yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit, akan melepaskan 174 ton karbon dan sebagian besar diantaranya menemukan jalan sendiri menuju udara. Peningkatan luas area perkebunan kelapa sawit dari tahun ke tahun sebanding dengan peningkatan kadar gas karbon di udara yang dihasilkan dari aktivitas pembukaan perkebunan kelapa sawit. Selain itu, lahan gambut yang bersifat basah dan memiliki kadar karbon tinggi, sebelum ditanami sawit harus ditebang dan dibakar. Metode ini sangatlah beresiko karena akan meningkatkan terjadinya kebakaran hutan.

3.     Penurunan kualitas tanah

Pembuangan limbah cair kelapa sawit dengan metode land application dapat menurunkan pH tanah serta C organik dan N total tanah.

Bagaimana keberlanjutan kelapa sawit di Indonesia?

Peningkatan produksi minyak sawit yang sangat cepat dikhawatirkan mengabaikan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability) yang kemudian berpotensi pada hilangnya tutupan dan kawasan hutan, kehilangan keanekaragaman hayati, dan terganggunya keseimbangan ekosistem, meningkatnya emisi gas rumah kaca, serta timbulnya konflik sosial dengan masyarakat di sekitar perkebunan. Untuk mencegah hal tersebut dibentuklah RSPO. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) adalah inisiatif bisnis dimana para anggotanya secara sukarela mengikatkan diri pada mekanisme RSPO dengan tujuan untuk memproduksi dan menggunakan minyak sawit berkelanjutan. Produksi minyak sawit secara berkelanjutan berarti berpedoman pada 3P – People, Planet and Profit – selanjutnya menjadi konsep yang diambil dari kebijakan Millennium Development Goals (MDGs), yang ditandatangani oleh negara-negara anggota, termasuk Indonesia. 

 

Sejak diterapkan pada bulan Mei 2008 – Agustus 2015 terdapat lebih dari 29 grup perusahaan dengan lebih dari 123 pabrik kelapa sawit di Indonesia yang telah berhasil memiliki sertifikat produksi minyak sawit berkelanjutan RSPO. Kapasitas produksi minyak sawit bersertifikat (CSPO) RSPO dan minyak inti sawit bersertifikat (CSPK) RSPO yang dihasilkan Indonesia adalah 5.447.814 ton dan 1.231.383 ton dengan luas kebun bersertifikat RSPO 1.318.172 hektar (data Agustus 2015). Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil minyak sawit bersertifikat RSPO terbesar di dunia. Di samping itu, saat ini terdapat tiga kelompok petani swadaya yang telah memperoleh sertifikat RSPO di Indonesia.

LPolusi air oleh POME

Dampak lain perkembangan pesat produksi minyak sawit mentah adalah limbah cair kelapa sawit, yang sering disebut sebagai Palm Oil Mill Effluent atau POME. POME adalah limbah cair kelapa sawit yang masih mengandung banyak padatan terlarut. Sebagian besar padatan terlarut ini berasal dari material lignoselulosa mengandung minyak yang berasal dari buah sawit. Setiap ton tandan buah segar yang diolah menghasilkan limbah cair sekitar 50% dibandingkan dengan total limbah lainnya, sedangkan tandan kosong sebanyak 23% (Sutarta dalam Wibisono, 2013). POME merupakan salah satu masalah terbesar industri kelapa sawit dan berpotensi menyebabkan polusi lingkungan, penyebabnya yaitu :

1.     Kurangnya penegakan hukum mengenai baku mutu

Limbah cair yang dihasilkan seharusnya mengikuti standar yang sudah ditetapkan dan tidak dapat dibuang/diaplikasikan secara langsung karena akan berdampak pada pencemaran lingkungan. Parameter yang menjadi salah satu indikator kontrol untuk pembuangan limbah cair adalah angka biologycal oxygen demand (BOD) dan angka chemical oxygen demand (COD). Angka BOD berarti angka yang menunjukkan kebutuhan oksigen. Jika air limbah mengandung BOD tinggi dibuang ke sungai maka oksigen yang ada di sungai tersebut akan terhisap material organik tersebut sehingga makhluk hidup lainnya akan kekurangan oksigen. Sedangkan angka chemical oxygen demand (COD) adalah angka yang menunjukkan suatu ukuran apakah dapat secara kimiawi dioksidasi.

2.     POME langsung dialirkan ke badan air

Secara umum dampak yang ditimbulkan oleh limbah cair industri kelapa sawit adalah tercemarnya badan air penerima yang umumnya sungai karena hampir setiap industri minyak kelapa sawit berlokasi di dekat sungai. Limbah cair industri kelapa sawit bila dibiarkan tanpa diolah lebih lanjut akan terbentuk amonia, hal ini disebabkan oleh bahan organik yang terkandung dalam limbah cair tersebut terurai dan membentuk amonia. Terbentuknya amonia ini akan mempengaruhi kehidupan biota air dan dapat menimbulkan bau busuk.

3.     Sulit mengatur pertumbuhan bakteri anaerobik optimum                   

 

POME sendiri dapat diolah dengan menggunakan dua perlakuan, yaitu :

1.     Biological Treatment with Land Application

       POME diolah dalam kolam anaerobik sampai nilai BOD-nya turun menjadi 5000 mg/L

       POME yang sudah terolah dipindahkan dalam bentuk cairan sebagai penyubur tanah

       Tanah yang boleh dijadikan lahan aplikasi diatur dalam permen LHK No. 28-29 tahun 2003

2.     Biological Treatment without Land Application

       POME diolah dalam kolam anaerobik sampai nilai BOD-nya turun menjadi 5000 mg/L

       POME yang sudah terolah dipindahkan ke dalam kolam facultative, kolam aerobik, atau bed filters

 

Seberapa besar urgensi kelapa sawit di Indonesia?

1.     Sawit adalah tumbuhan paling efisien dibanding penghasil minyak nabati lainnya.

Produktivitas kelapa sawit bisa mencapai 5 ton per hektar (ha), sementara rapeseed hanya 0,7 ton per ha, bunga matahari 0,6 ton per ha dan kedelai 0,4 ton per ha. Artinya, pengembangan kelapa sawit lebih efektif dan memerlukan lahan yang lebih sedikit untuk menghasilkan minyak nabati dalam jumlah besar.

2.     Meningkatkan perekonomian

Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah menciptakan lapangan pekerjaan yang besar dalam perekonomian. Jumlah rumah tangga perkebunan sawit rakyat meningkat dari 1,36 juta (2000) menjadi 4,4 juta (2016). Secara keseluruhan total tenaga kerja diserap di perkebunan sawit rakyat dari 2,7 juta menjadi 7,8 juta tenaga kerja. Perkebunan kelapa sawit memberikan dampak signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sejak 2000, industri sawit mendorong setidaknya 10 juta penduduk keluar dari garis kemiskinan dan 1,3 juta di antara mereka hidup di pedesaan.

3.     Sumber Biodiesel

Kelapa sawit dapat diolah menghasilkan biodiesel dan bioetanol serta biogas. Hal ini mendorong pemerintah untuk menerapkan penggunaan campuran biodiesel dengan bahan bakar minyak. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan penggunaan bahan bakar fosil sekaligus menghemat devisa negara dalam impor bahan bakar minyak.

Sumber:

Adi Perisai, Ramos (2020). Sawit dan Lingkungan yang Sakit. Diakses dari : https://fh.unpad.ac.id/sawit-dan-lingkungan-yang-sakit-perspektif-analisis-terhadap-dampak-negatif-dalam-pengelolaan-perkebunan-kelapa-sawit-di-indonesia/

Certification Standards. Diakses dari : https://www.forumpalmoel.org/certification/certification-standards

Mongabay. Hukum dan Perundangan yang Berhubungan dengan Tata Kelola Hutan dan Lahan. Diakses dari : https://www.mongabay.co.id/hukum-dan-perundangan-yang-berhubungan-dengan-tata-kelola-hutan-dan-lahan/

Studi Bersama Persamaan dan Perbedaan Sistem Sertifikasi ISPO dan RSPO.

Diakses dari : https://rspo.org/news-and-events/news/studi-bersama-isporspo-sebuah-pencapaian-penting-dalam-kerjasama-mewujudkan-minyak-sawit-berkelanjutan-di-indonesia

 

Penulis: Verinda Setiana

Leave a Comment